Contoh Terjemahan Puisi Arab ke Inggris dan Indonesia

By: @harimur

Posted 01 Apr 2012, updated 01 Aug 2012

Pada pertengahan 1997, saya menjumpai penggalan puisi berbahasa Arab serta terjemahannya ke bahasa Inggris yang dikutip Anwar Ibrahim dalam bukunya yang banyak disanjung orang kala itu, The Asian Renaissance (Times Books International, 1996). Ketika Anwar Ibrahim disingkirkan pada 1998 yang sontak menjadi buah bibir lagi, buku itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Tulisan ini akan menyandingkan ketiga versi dari penggalan puisi itu: dalam bahasa Arab, terjemahan bahasa Inggris dan Indonesia.

Penggalan puisi ini menarik karena –jauh sebelum para filsuf kontemporer menelanjangi praktik kapitalisme mutakhir– ia mengingatkan kita bahwa habis-habisan mengejar kecantikan dan ke-elok-an tubuh itu sebenarnya sia-sia. Perlombaan memperindah tubuh, dalam segala intensitas, kompleksitas dan implikasinya tidak akan membuat manusia menjadi lebih baik, melainkan hanya akan lebih konsumtif yang berpotensi memandulkan hal-hal yang lebih penting.

Puisi berbahasa Arab itu...

Pada akhir bab ketujuh (“The Primacy of Culture”, hal. 109), Anwar mengingatkan bahwa kaum terpelajar di masyarakat yang humanis mustinya memiliki spesialisasi sekaligus pengetahuan yang menyeluruh sebagai penopang suatu komunitas yang mengutamakan pencapaian intelektual dan bukan material semata.

Anwar menegaskan itu dengan mengutip penggalan puisi (syair) karya humanis dari zaman klasik Islam, Abu'l Fath al-Busti, dalam transliterasi Latin sebagai berikut:

Yā khādim al-jismi! kam tasqā bi-khidmatihi!
Li-tathluba 'l-ribḥa mimmā fīhi khusrānu.
Aqbil ‛alā 'l-nafsi wa 'stakmil faḍāilahā
Fa anta bi 'l-nafsi lā bi 'l-jismi insānu.


Bagi pembaca yang lebih akrab dengan ortografi Arab –bahasa asli ketika puisi ini ditulis– maka penggalan puisi itu kira-kira dapat ditransliterasikan-kembali seperti yang berikut ini. Saya katakan kira-kira karena saya sendiri belum pernah “melihat” teks aslinya (Muntazam):

يا خادم الجسم كم تسقى بخدمته
لتطلب الربح مما فيه خسران
أقبل على النفس و استكمل فضآئلها
فأنت بالنفس لا بالجسم إنسان

Terjemahan Bahasa Inggris

Anwar mengambil penggalan puisi ini dari epigraf (semacam halaman “motto”) di buku The Rise of Humanism in Classical Islam and the Christian West: With Special Reference to Scholasticism (Edinburgh Univ. Press, 1980), salah satu karya penting George Makdisi, Professor Kebudayaan Islam Klasik di Universitas Pennsylvania. Makdisi menerjemahkan penggalan puisi Arab klasik itu sebagai berikut:

O Slave of the body! How you toil to serve it!
Where there's nothing but loss, you seek to profit.
Turn to the mind, which needs to be perfect:
You are a man, not by the body, but by the intellect.

Padat dan mengena! Itulah mungkin tanggapan pertama bila kita membandingkan puisi terjemahan itu dengan puisi dalam bahasa aslinya. Dari segi isi, ketersampaian pesannya kiranya tidak perlu diperdebatkan lagi; namun dari segi bentuk, barangkali ada dua hal yang perlu diberi catatan.

Pertama, perubahan rima dari abab (atau kalau mau strict: abcb) menjadi aabb. Dari segi lain, sementara kata al-jism pada baris pertama dan terakhir diterjemahkan secara konsisten menjadi body, kata nafs diterjemahkan menggunakan dua kata bersinonim. Pada baris ke-3, kata nafs itu diterjemahkan menjadi mind, sedang pada baris terakhir, kata itu menjadi intellect. Kita dapat menduga bahwa kata intellect itu terutama dimaksudkan untuk menjaga konsistensi pola persajakan tertentu.

Kedua, perubahan cara pemberian penekanan (emphasis) pada baris terakhir. Dalam puisi aslinya, penekanan tentang pentingnya nilai kemanusiaan itu mengalir dari syarat (fa anta bi 'l-nafsi lā bi 'l-jismi) baru disusul dengan status atau derajat yang ditekankan (insānu). Sementara dalam terjemahan, cara bertutur puisi itu menggunakan logika yang sebaliknya: status (You are a man) mendahului prasyarat bagi status itu (not by the body, but by the intellect). Barangkali hal ini terkait dengan fleksibilitas pola urutan kata dalam konstruksi puisi untuk mencapai persajakan tertentu dan juga bahwa urutan kata (tanpa partikel) dalam kalimat dapat digunakan untuk menekankan makna.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Seperti sudah disinggung di atas, setelah Anwar disingkirkan dari ketatanegaraan Malaysia, buku The Asian Renaissance itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul yang cenderung dipaksakan: Renaisans Asia; gelombang reformasi di ambang alaf baru (Mizan, 1998). Harap maklum, waktu itu Indonesia sedang demam Reformasi, dan Anwar diposisikan sebagai korban Mahathir (yang kekuasaannya seperti Soeharto, penguasa Indonesia yang baru saja digulung “gelombang reformasi di ambang alaf baru” itu...).

Nah, terjemahan Indonesia oleh Ihsan Ali-Fauzi dari puisi Arab itu (hal. 113) adalah:

Wahai budak raga! Betapa susah payah kau melayaninya!
Engkau ingin mengejar keuntungan darinya, tetapi hanya kerugian yang kau dapat.
Berpalinglah kepada pikiran, genapkanlah kesempurnaannya:
Lantaran pikiran, bukan raga, engkau 'lah manusia.

Tentang isi atau pesan puisi itu, tidak ada yang perlu dibahas lagi: Nyaris sempurna! Pesan dalam puisi aslinya dapat disampaikan secara utuh. Namun dari segi estetika terjemahan, ada tiga aspek yang perlu disinggung dari terjemahan puisi itu.

Pertama, ada kemungkinan penerjemahnya mampu mengacu ke puisi aslinya serta tidak semata-mata menerjemahkannya dari bahasa Inggris. Hal seperti ini menjadi nilai lebih dalam penerjemahan. Kemungkinan itu terlihat dari lebih miripnya konstruksi kalimat dan kesejajaran logika tiap barisnya dengan konstruksi dan logika dalam puisi aslinya. Tapi anehnya, penggunaan tanda baca pada puisi terjemahan itu justru lebih mirip dengan yang ada pada terjemahan bahasa Inggris. Ini nampak dari 2 tanda seru (!) di baris pertama dan tanda titik dua (:) pada baris ke-3.

Kedua, yang juga tampak ganjil dari puisi terjemahan itu bila dibandingkan dengan puisi asli dan terjemahan Inggrisnya adalah pada baris kedua yang kelewat panjang. Mustinya, selisih panjang baris itu tidak perlu terlalu jauh. Dalam penerjemahan puisi, panjang baris itu harus diupayakan untuk sama: sama-sama singkat atau, bila terpaksa, sama-sama panjang (Terkait pentingnya harmoni ini, lihat tulisan sebelumnya).

Terakhir, masih terkait dengan yang kedua, nampaknya penerjemah terbelit oleh konstruksi dan logika pada puisi dalam bahasa sumbernya tanpa mau keluar dengan konstruksi bahasa tujuan secara lebih kreatif. Bila diperhatikan, konstruksi kalimat dalam puisi itu, lebih-lebih baris terakhir, telah menjadikan aliran puisi itu tersendat; rasanya seperti naik sepeda di gang dengan polisi-polisi tidur setiap tiga meter. Belitan konstruksi itu juga terbaca dari persajakan puisi yang dibiarkan begitu saja, tidak ditata dengan memperhatikan puisi secara utuh.

Sebenarnya, puisi itu masih dapat diterjemahkan dengan longgar, kontekstual dan keluar dari belitan kosakata dan konstruksi bahasa sumbernya yang cukup rapat, namun dengan tetap menjaga persajakan dan kesetaraan panjang baris. Salah satu kemungkinan terjemahan itu menurut saya adalah:

Wahai pemuja harta dan raga, betapa kasihan engkau dibuatnya!
Kau harap untung dari pengabdian yang justru merugikanmu.
Kini berpalinglah ke akal budimu dan asahlah ia agar sempurna!
Sebab akal budi lah yang menjadikanmu manusia, bukan raga itu.

Untuk kita renungkan bersama

Kalau kita perhatikan, perlombaan mencapai keelokan ragawi ini sudah berimplikasi demikian luas. Ia tidak saja menyangkut kebutuhan super-primer (makan) melainkan sudah menuntun gaya hidup yang berorientasikan pada pemenuhan tuntutan kenyamanan ragawi yang terlalu jauh.

Pada gilirannya, perilaku seperti ini akan mendorong manusia untuk selalu mengejar kenyamanan ragawi: makan yang mak nyusss, pakaian serba mahal, asesoris keren, gadget mutakhir, kendaraan yang nyaman, rumah mewah, dll. Barangkali orientasi yang hiper-konsumtif seperti itulah yang telah menjadikan banyak anggota masyarakat kita super korup di hampir semua aspek. Yang paling diuntungkan tentu para pemilik modal penjual mimpi.

Golongan pemilik modal penggerak ini demikian lihainya mengeruk keuntungan dengan segala cara, hingga yang disebut “kebutuhan” itu bisa mereka ciptakan melalui iklan. Betapa orang yang sebenarnya berkulit sawo matang, tiba-tiba ingin mempunyai kulit putih, karena gempuran iklan mengatakan bahwa cantik itu putih (Saya tidak pernah menyebut sapi kakek saya di kampung: Cantik.., seputih apa pun dia!).

Di tangan para penggerak modal inilah, sesuatu yang sebetulnya bukan kebutuhan akhirnya bisa tampak seolah-olah menjadi kebutuhan mutlak. Lalu mati-matian kita bekerja demi “kebutuhan” itu: agar kulit kita putih, agar kendaraan kita wah, agar tidak disebut ketinggalan, dst... Lebih celaka lagi, kebutuhan itu dikemas dengan bahasa Agama!

King Julien XIII, menyapa pemuja harta...

Hallooo... pemuja harta dan raga, sungguh kasihan kau dibuatnya...!
(Harap dibaca dengan aksen India dengan bunyi /t/ yang tebal, seperti King Julien XIII, tokoh paling lucu dalam film animasi Madagascar).

Sudah banyak kajian yang dilakukan akademisi tentang perilaku konsumtif umat beragama yang memperingati momen penting dalam sejarah keagamaannya atau saat-saat yang esensinya justru menuntun orang untuk hidup sederhana, menahan diri, dan berbagi. Ini bisa kita lihat di semua masyarakat, termasuk kita. Baik menjelang maupun saat Natal dan Idul Fitri merupakan months of living extravagantly...!

Lebih celaka lagi, bila ternyata dorongan untuk hidup serba konsumtif itu dipenuhi dengan uang hasil korupsi. Jadilah, para koruptor itu seperti boneka yang dimainkan oleh pemilik modal untuk terus menerus membeli apa saja, dari mana pun duitnya. Tidak berhenti sampai di situ, produk konsumtif (baik barang maupun kondisi psikologisnya) itu bahkan lalu dinikmati dan dipertontonkan di depan jutaan mata orang miskin yang ikut hadir di ruang-ruang publik kita. Tega-kah Anda?

Dengan demikian, penggalan puisi karya humanis Arab pada masa Klasik Islam tadi sejak lama sudah mengisyaratkan bahaya mengejar kenyamanan ragawi, tidak peduli agamanya apa. Bila kita renungkan, pesan puisi ini mampu menepis semua godaan perilaku konsumtif. Sungguh, memperturutkan kenyamanan ragawi itu hanya akan menjauhkan kita dari esensi hidup. Ah, sudahlah, mungkin saya saja yang sok tahu...

Acknowledgement:
Transliterasi-balik dari Latin ke Arab dimungkinkan berkat bantuan Ibnu Burdah, meskipun transliterasi kami berdua akhirnya berbeda. Jika ternyata saya keliru, itu semua tanggung jawab saya.


Update, 2 Mei 2012:
Dalam tanggapannya di Twitter, Ihsan Ali-Fauzi mengatakan bahwa ia menerjemahkan (puisi itu) dari edisi bahasa Inggrisnya.


Komentar


  1. Ubaidillah, 6 May 2012:

    ???? ????? ?? ???? ??????
    ????? ????? ??? ??? ?????
    ???? ??? ????? ? ?????? ???????
    ???? ?????? ?? ?????? ?????

    cuma merevisi tulisan Arabnya Pak,

    ?? ???? ????? ?? ???? ??????
    ????? ????? ??? ??? ?????
    ???? ??? ????? ??????? ???????
    ???? ?????? ?? ?????? ?????

    perubahannya ada pada penulisan hamzah di bawah/di atas alif (dibuang/dipakai)
    Untuk itu pakai tulisan syair yang kedua. Wassalam..

  2. Rahmat, 10 May 2012:

    Terjemahan alternatifnya lebih lancar dan pesannya lebih mudah ditangkap. Tapi, untuk baris kedua aku merasa kehilangan efek ironi dan dramatiknya jika dibandingkan dengan versi inggrisnya (arabnya aku ga tahu). Baris kedua dalam terjemahanmu itu terlalu analitis (mungkin karena terbiasa menerjemahkan tulisan ilmiah ya). Tapi mungkin juga ini masalah selera saja. Jempol untuk semangatnya mengulik masalah seperti ini dan (ini penting) rela membagi ilmunya untuk banyak orang.
    Omong-omong tentang substansinya..., pas banget dengan buku yang sedang kubaca: The High Price of Materialism, tulisan Tim Kasser, MIT Press, Massachussetts, London. 2002. Memburu kehidupan ragawi memang berat di ongkos.

  3. Harimur, 12 May 2012:

    @Ubaidillah: Makasih banyak koreksinya. Langsung diganti... Ini enaknya punya teman ngajar di UIN...
    @Rahmat: Iya, yo... baris kedua itu tidak straightforward. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada wangsit biar baris itu lebih baik. Mau juga aku dipinjami buku Tim Kasser itu... hehe... Thanks udah mampir

  4. karmila, 31 Jul 2012:

    trsims akhrnya slsai jga tgs pcr sya,,,,kmpln puisi yg bgs skli ...i likee it

  5. Harimur, 01 Aug 2012:

    @karmila: Sama-sama. Jangan lupa sebutkan sumbernya ya. Good luck...


Ingin berkomentar?

Form komentar hanya disedikan di posting terbaru. Bila Anda ingin menyampaikan pertanyaan atau komentar, silakan gunakan contact form atau email.


Artikel Terkait

Puisi pendidikan anak usia dini yang paling fenomenal adalah “Children Learn What They Live” yang ditulis Dorothy Law Nolte (terj. Indonesia oleh Jalaluddin Rakhmat).

If children live with criticism, they learn to condemn. ...
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. ...

Baca selengkapnya»


Artikel Lainnya