Sekali Lagi tentang Tarif Terjemahan

By: @harimury

Posted 12 Jun 2011, updated 1 Jan 2015

Karena rate terjemahan, baik terjemahan Inggris-Indonesia maupun Indonesia-Inggris, mengundang banyak pertanyaan, maka BlogNotes kali ini akan mengklarifikasi soal tarif terjemahan itu. Mudah-mudahan pembaca dapat memahami dan mulai menghargai penerjemah sebagai profesi, seperti halnya dokter, akuntan, dosen, dan lain-lain.

Salah satu komentar yang masuk lewat email adalah: mengapa tarifnya mahal, di kota A tarifnya cuma 15ribu? Tidak ada satu jawaban yang bisa menjawab bermacam-macam situasi yang menyebabkan orang berpendapat bahwa rate ini mahal. Setidaknya ada tiga patokan yang kami pergunakan: pertama, kualifikasi dan pengalaman; kedua, situasi pasar secara riil; dan ketiga acuan tarif yang dikeluarkan Himpunan Penerjemah Indonesia dan Depkeu (untuk lembaga pemerintah).

Dari segi pengalaman dan kualifikasi, kami mempunyai pengalaman minimal 10 tahun sejak pertama kali menerima order terjemahan secara profesional, atau dimulai saat semester akhir kuliah di Jurusan Sastra Inggris. Seiring waktu, penerjemah memiliki pengalaman yang terakumulasi menjadi kualifiksi tertentu yang tidak boleh dibandingkan dengan penerjemah baru secara semena-mena.

Sementara itu, berpatokan pada situasi pasar secara riil, selama ini klien kami puas dengan hasil pekerjaan dan justru merasa terbantu karena mendapatkan jasa terjemahan dengan kualitas yang baik. Tarif terjemahan yang berlaku di pasar sebenarnya lebih berdasar pada adanya kesepakatan tak tertulis. Selain itu, klien dapat menilai hasil pekerjaan terjemahan dengan objektif. Di pasar, tarif terjemahan itu sangat beragam, mulai Rp 5.000/halaman (pemula, non-profesional) sampai Rp 500.000/halaman (untuk terjemahan beresiko atau sensitive case).

Terakhir, ada tarif acuan yang dikeluarkan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia dan Universitas Indonesia, kutipannya dapat dilihat di blog salah satu Asosiasi Penerjemah (tidak jelas mengapa situs resmi Himpunan Penerjemah Indonesia justru tidak mempublikasikannya).

Yang harus dicatat adalah bahwa acuan tarif terjemahan itu dikeluarkan tahun 2005, dan Catatan butir (2) menyebutkan bahwa "Tarif penerjemahan [...] ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penerjemah dan pemberi tugas" (cetak miring dari kami, indonesian-english.com). Kesepakatan inilah yang dalam praktikknya lebih banyak berlaku dalam menentukan rate terjemahan.

Sementara itu, untuk lembaga pemerintah, biaya belanja terjemahan diatur dengan Peraturan Menteri, dengan batas atas tarif terjemahan Indonesia-Inggris maupun Inggris-Indonesia sebesar Rp 125.000,00 per halaman. Berikut ini dapat Anda download langsung dari Direktorat Anggaran, Depkeu RI, versi PDF hasil scan dari Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012.

Demikianlah tentang tarif atau rate terjemahan. Untuk entry BlogNotes berikutnya, kami akan jelaskan satuan tarifnya, per halaman vs. per kata.

UPDATE 31 Jul 2012

Melalui websitenya, Himpunan Penerjemah Indonesia pada 15 Jul 2012 telah mengumumkan standar acuan tarif penerjemahan 2012 yang berpatokan pada Permenkeu sebagaimana disebutkan di atas.


UPDATE 1 Jan 2015

Sebagai acuan pembanding, biaya belanja terjemahan di lembaga pemerintahan tahun 2015 ditentukan melalui Peraturan Menteri Keuangan, dengan batas atas tarif terjemahan Indonesia-Inggris maupun Inggris-Indonesia sebesar Rp 152.000,00 per halaman. Silakan periksa Peraturan Menteri Keuangan No. 53/PMK.02/2014 tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2015 (halaman 56 butir 5, "Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan").




Ingin berkomentar?

Form komentar hanya disedikan di posting terbaru. Bila Anda ingin menyampaikan pertanyaan atau komentar, silakan gunakan contact form atau email.


Artikel Terbaru

Puisi pendidikan anak usia dini yang paling fenomenal adalah “Children Learn What They Live” yang ditulis Dorothy Law Nolte (terj. Indonesia oleh Jalaluddin Rakhmat).

If children live with criticism, they learn to condemn. ...
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. ...

Baca selengkapnya»