Puisi Pendidikan Anak: “Children Learn What They Live” dan Terjemahan Indonesianya

By: @harimury

Posted 01 Feb 2012, updated 28 Nov 2012

puisi pendidikan, Children Learn What They Live

Puisi pendidikan anak usia dini yang paling fenomenal sepanjang sejarah barangkali adalah “Children Learn What They Live” yang ditulis Dorothy Law Nolte. Posting kali ini akan menjajarkan puisi aslinya dan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan seorang sarjana Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.

Salah satu bukti dari fenomenalnya puisi ini adalah bahwa setidaknya sampai tahun 1998, puisi ini telah diterjemahkan dalam 35 bahasa dan jumlahnya barangkali terus bertambah.

Puisi pendidikan anak ini mampu merangkum segi-segi yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak (usia dini) dengan ungkapan sehari-hari yang sangat familiar, sederhana, padat, namun sangat menuntut kerja keras bila akan dipraktikkan.

Puisi pendidikan yang sudah menjadi karya klasik ini sebenarnya ditulis pada tahun 1954 untuk koran Torrance Herald di Southern California, di mana Dorothy sendiri adalah salah satu kolumnisnya. Setelah dimuat di surat kabar itu, puisi ini menjadi sangat terkenal dan dapat ditemukan di mana-mana.

Ironisnya, seperti halnya puisi sastrawan Indonesia yang dibahas terdahulu, pada waktu itu banyak juga yang tidak tahu siapa penulis puisi pendidikan yang sangat dalam ini, sehingga banyak yang mencantumkan “Author Unknown” maupun “Anonymous”. Ada juga yang mengubah dan memodifikasi baris-baris di dalamnya tanpa meminta izin penulisnya terlebih dahulu. Bahkan dalam menulis 100 Ways to Enhance Self-concept in the Classroom: A handbook for teachers and parents (Boston: Allyn & Bacon, 1976), Jack Canfield (yang kelak juga menulis best-seller Chicken Soup for the Soul) sepertinya tertipu karena memasukkan puisi yang ternyata sudah dimodifikasi orang.

Sang Maestro puisi pendidikan

Dorothy Law Nolte, Ph.D, penulis puisi pendidikan ini, adalah seorang pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise. Dalam kebudayaan Barat pada umumnya, bila seorang perempuan menikah maka ia akan menggunakan nama belakang dari nama keluarga sang suami.

Nah, dalam kasus Dorothy, Law adalah nama keluarga dari suami pertamanya, Durwood Law. Sementara itu, Nolte adalah nama keluarga dari suami kedua, Claude Nolte. Untuk ukuran Amerika, memakai nama keluarga milik suami pertama dan kedua sekaligus seperti ini sebenarnya kurang lazim. Tapi begitulah mungkin cara Dorothy mempertahankan kejelasan sejarah hidupnya.

Puisi tulisan Dorothy itu, setelah kemunculan pertamanya di koran pada tahun 1954, menjadi sangat terkenal dan direproduksi di mana-mana. Yang paling spektakuler adalah ketika salah satu divisi Abbott Laboratories, Inc., sebuah perusahaan multinasional, mencantumkan puisi itu (serta 10 macam terjemahannya untuk 10 negara tujuan pemasaran yang berbeda) di kemasan produk nutrisi bayi yang terdistribusikan di seluruh dunia tanpa memberi royalti apa-apa kepada penulisnya. Dorothy sendiri baru mengurus hak intelektual atas puisi itu tahun 1972 namun tetap mengizinkan Abbott untuk terus menggunakan puisi itu secara cuma-cuma.

Dalam sejarahnya, puisi ini sempat direvisi dua kali oleh penulisnya. Pertama, pada awal tahun 1980-an, Dorothy mengubah pronomina tunggal menjadi jamak agar netral, karena bahasa Inggris termasuk bahasa yang berjender (membedakan nomina-pronomina feminin dan maskulin). Pada awalnya, nomina “anak” dan pronominanya dalam puisi ini berbentuk tunggal: “If a child lives with ..., he learns ....” Untuk menetralisir isu gender dalam puisi itu, kemudian digantilah pronomina untuk proposisi dasar puisi itu secara keseluruhan menjadi plural (jamak): “If children live with ..., they learn ... .” (Catatan: Dalam hal sensitivitas gender ini, bahasa Indonesia telah jauh lebih maju)

Perubahan kedua adalah dengan memecah baris tertentu yang terlalu panjang dan kompleks menjadi dua baris, serta menambahkan baris baru seiring perkembangan yang membawa situasi-situasi baru yang perlu direspons. Demikianlah, puisi yang awalnya terdiri dari 14 baris itu kini menjadi 19 baris.

Pada tahun 1998 Dorothy menjabarkan puisi itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 19 bab (sesuai jumlah baris dalam puisi). Buku ini ditulis bersama Rachel Harris, dan diberi judul Children Learn What They Live: parenting to inspire values, diterbitkan oleh Workman Publishing Company, New York. Buku ini diberi kata pengantar oleh penulis buku Chicken Soup for the Soul, Jack Canfield, yang –menurut pengakuannya sendiri– ternyata sangat dipengaruhi oleh puisi Dorothy ini.

Sebelum kepergiannya tahun 2005 pada usia 81 tahun, Dorothy Law Nolte telah sempat merampungkan buku yang kedua tentang pendidikan dan pengasuhan remaja, yang juga disusun berdasarkan pola buku pertama. Buku ini diberi judul Teenagers Learn What They Live: parenting to inspire integrity and independence, terbit tahun 2002.

Puisi Pendidikan itu...

Puisi pendidikan karya Dorothy Law Nolte ini diambil dari halaman vi dari buku Children Learn What They Live: parenting to inspire values yang disebutkan tadi.

Children Learn What They Live

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

Terjemahan Indonesia

Berikut ini adalah terjemahan yang diberikan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual; refleksi-sosial seorang cendekiawan Muslim (Bandung: Mizan, Cet. X, 1998, hal. 187).

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Sedikit catatan

Bila kita perhatikan, ada beberapa baris yang hilang pada terjemahan puisi pendidikan anak tersebut. Sementara puisi aslinya terdiri dari 19 baris, puisi terjemahan Kang Jalal baru mencakup 11 baris, sehingga secara keseluruhan ada selisih 8 baris. Nampaknya, puisi yang sampai ke tangan Kang Jalal pada waktu itu adalah puisi yang sudah “dimodifikasi oleh orang lain” sebagaimana sudah disinggung di atas.

Pernyataan Dorothy Law Nolte sendiri dalam pengantar bukunya (1998: xiii-ix) itu dapat mengafirmasi kemungkinan ini, yaitu bahwa sebelum ia tambahkan baris terakhir itu, memang sudah ada orang yang menambahkan satu baris terakhir pada puisi itu: “If children live with acceptance and friendship, they learn to find love in the world”. Kalau kita perhatikan puisi terjemahannya, tepat seperti itulah maksud yang ingin disampaikan baris “selundupan” dalam puisi ini: “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” (Tentang ketidaksetujuan Dorothy terhadap isi baris "selundupan" ini, Anda dapat membacanya di bagian pengantar buku Children Learn What They Live: parenting to inspire values.)

Apalagi, kalau kita ingat bahwa tulisan Kang Jalal dalam buku itu (termasuk tulisan tentang puisi Dorothy Law Nolte) awalnya merupakan tulisan-tulisan di kolom berbagai harian dan majalah sebelum tahun 1990 yang dikumpulkan dan diterbitkan penyuntingnya tahun 1991 (cetakan pertama). Sementara itu, versi final dari puisi “Children Learn What They Live” baru muncul pada tahun 1998. Jadi, wajar bila memang ada yang hilang dari puisi yang diterjemahkan Kang Jalal waktu itu. Atau mungkin saya saja yang sok tahu. Entahlah...

Hal berikutnya yang juga harus diperhatikan adalah penerjemahan dari jamak ke tunggal. Untuk yang satu ini kita hanya bisa berspekulasi. Bisa jadi memang yang diterjemahkan Kang Jalal itu versi sebelum dirubah sendiri oleh penulisnya (“If a child lives with ..., he learns ....”) Bisa juga, Kang Jalal melakukan singularisasi, dengan menerjemahkan “If children live with ..., they learn ... ” menjadi “Jika anak dibesarkan dengan ..., ia belajar ... .”

Sebagaimana disinggung di atas, singularisasi ini justru menghindarkan puisi terjemahan itu dari bias jender, yang kehadirannya dalam bahasa Inggris dihindari oleh Dorothy melalui bentuk plural. Puisi terjemahan itu diuntungkan karena bahasa Indonesia tidak mengenal nomina-pronomina berjender. Dari segi bentuk, singularisasi ini akan mempersingkat baris puisi dengan menghindari penggunaan kata ulang (anak-anak) dan pronomina yang lebih panjang (mereka). Dari segi makna pun, penerjemahan demikian itu masih dapat diterima, bahkan justru lebih efektif.

Apa pun, yang jelas dari segi penerjemahan, puisi terjemahan Kang Jalal itu sangat mengena. Kita pun masih bisa meraba-raba, baris mana saja yang hilang dari puisi terjemahan itu. Sebagai penulis kawakan dan komunikator ulung, nampaknya Kang Jalal memang berhasil mengolah pesan puisi itu dalam bahasa aslinya untuk kemudian secara sangat lugas tapi cermat disampaikan dalam bahasa audiens-nya. Coba bandingkan baris yang berikut:
If children live with fairness, they learn justice.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.

Luar biasa!!

Akhir kata...

Itulah puisi pendidikan anak usia dini yang isinya perlu kita renungkan. Sudahkah kita menghindari sikap-sikap negatif yang akan menghancurkan karakter anak kita? Sejauh mana kita telah memperlakukan anak-anak kita secara positif sebagaimana puisi Dorothy Nolte yang diterjemahkan Kang Jalal itu... ***)


Komentar


  1. Doni, 08 Feb 2012:

    "Kalau anak dibesarkan dengan uang hasil korupsi, ia belajar ...."

  2. Harimur, 10 Feb 2012:

    Hmmm... mungkin "ia akan belajar menghilang," atau "ia belajar memilih pengacara yang super tangguh."

  3. bunda adifa, 18 Feb 2012:

    luar biasa...bgmnpun pribadi anak mrpkn bgian dr crminan dr kita...
    hhmm smg anakku mjd org bsr yg brmnfaat bg umat mski ibunya org biasa

  4. Harimur, 18 Feb 2012:

    @bunda adifa: Yup, setuju (puisinya luar biasa...). Amiin... (jangan khawatir bu, menurut saya dalam hal mendidik anak, semua orang tua "luar biasa"

  5. erni, 18 Feb 2012:

    Bagus sekali, pak ...
    Jadi ingat pertama kali mengajar anak-anak :)

  6. Harimur, 20 Feb 2012:

    @erni: Betul. Tantangannya selalu: seberapa besar kemauan kita masuk ke dunia anak dan tidak memaksakan ego kita. Thanks udah mampir

  7. rossy, 22 Feb 2012:

    Mantaaaap! Terimakasih telah mengingatkan utk jd ortu yg baik. To be honest, puisi itu agak familiar buat aku, tapi baru ngeh pengarangnya sekarang. Apalagi sejarahnya... What a great exploration and explanation! Congrats!

  8. harimur, 23 Feb 2012:

    Eh... ada Bu Wamen yang berkomentar rupanya. Thanks udah mampir ya. HTH. (P.S. Ditunggu syukuran professor-nya suami ya..! hehe...)

  9. Mansur Nashir Elfana Al-Sadad, 29 Feb 2012:

    SUBHANALLAH..hendaknya kita bercermin dari puisi tersebut...

  10. Calon Pelanggan, 05 Apr 2012:

    Wah, sungguh artikel yang sangat menarik, enak dibaca dan bermanfaat. Saya sudah membaca beberapa tulisan pak Hari di Blog ini. Sangat mengesankan. Menunjukkan bahwa pak Hari adalah seorang penerjemah handal..! Selamat pak.. Terus berkarya demi kemajuan bangsa..!

  11. Harimur, 13 Apr 2012:

    @Calon Pelanggan: Terima kasih banyak atas kepercayaannya.. Semoga saya tidak mengecewakan..

  12. anita, 03 Jun 2014:

    luar biasa...................selalu jadi inspirasi kami ketika melangkahkan kaki pada dunia Pendidikan Anak Usia di Taman Kanak-Kanak


Ingin berkomentar?

Form komentar hanya disedikan di posting terbaru. Bila Anda ingin menyampaikan pertanyaan atau komentar, silakan gunakan contact form atau email.


Artikel Terkait

Dalam sejarah kesusasteraan Indonesia ada banyak puisi terjemahan yang sangat terkenal, salah satunya terjemahan Charil Anwar dari puisi berbahasa Inggris karya John Cornford yang kemudian diberi judul Huesca. John Cornford menulis puisi ini buat kekasihnya sementara dirinya ke medan perang di Spanyol tahun 1936.

Baca selengkapnya»