Contoh Puisi Terjemahan: “Huesca

By: @harimury

Posted 29 Jun 2011, updated 03 Aug 2012

Dalam BlogNotes kali ini akan dibicarakan satu contoh terjemahan puisi yang sangat berhasil, yaitu Huesca karya John Cornford yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar. Tulisan ini terinspirasi catatan masa kuliah (dulu) di kelas Pak Bakdi Soemanto, profesor Sastra Barat di Fakultas Sastra UGM (sekarang Fak. Ilmu Budaya).

Menerjemahkan puisi tergolong penerjemahan tersulit karena dalam prosesnya, sedapat mungkin dipertahankan suasana batin dari karya itu (mood, tone). Pada saat yang sama, penerjemah harus mencari padanan atas bentuk formal puisi itu sendiri secara tepat, misalnya jumlah baris (terutama untuk jenis sonnet), rhyme (persajakan) dan syllable (jumlah suku kata, misalnya untuk haiku).

Selain itu, perpindahan isi dan pesan (content, message) puisi juga harus dijaga supaya wajar. Semua kualifikasi ini sangat ditentukan oleh kepekaan seorang penerjemah-sastrawan.

Tentang Huesca dan Penulisnya

Huesca, contoh puisi kita kali ini, ditulis oleh John Cornford, seorang sastrawan dan aktivis kelompok sosialis Inggris yang terlibat (baca: memilih terlibat) dalam Perang Saudara di Spanyol (1936-39) antara kubu Nasionalis yang berhaluan fasis dan faksi Republik yang berhaluan sosialis.

Konflik politik internal itu bukan hanya menyeret sesama warga Spanyol dalam peperangan melainkan telah mengundang intervensi internasional, karena masing-masing kubu didukung oleh kelompok ideologi yang saling bertentangan dan melampaui batas-batas negara. John Cornford, penulis puisi ini, tergabung dalam front sosialis International Brigade yang di dalamnya juga bergabung banyak penulis dan sastrawan sosialis Eropa.

Perang Saudara itu bahkan telah membuka perang para penyair dunia antara sastrawan dan intelektual pro fasis di satu fihak dan intelektual pro sosialis di fihak lain. Di antara penulis pro fasis ada Ezra Pound dan Ortega y Gasset sedangkan di kubu sosialis ada Pablo Neruda (saat itu menjadi staf dipolomatik Peru untuk Spanyol), André Malraux, W.H. Auden, George Orwell (yang kemudian menulis A Homage to Catalonia), John Cornford, dan masih banyak lagi (silakan periksa V. Cunningham, Spanish Front: writers on the civil war, OUP, 1986).

Puisi dan surat-surat John Cornford diperuntukkan bagi Margot Heinemann, sahabat dan kekasihnya sejak mereka sama-sama kuliah di Cambridge. Menurut arsip Brigade Internasional, John Cornford tewas dalam sebuah pertempuran di Lopera, 28 Desember 1936, sehari setelah usianya “baru genap” 21 tahun.

Huesca: versi asli dan terjemahan

Inilah kedua puisi itu, puisi asli tulisan John Cornford dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh Chairil Anwar. Sebenarnya, versi asli puisi John Cornford ini tanpa judul tetapi mempunyai baris persembahan. Berkat terjemahan Chairil Anwar, puisi ini di Indonesia lebih dikenal sebagai Huesca.

[To Margot Heinemann]

Heart of the heartless world,
Dear heart, the thought of you
Is the pain at my side,
The shadow that chills my view.

The wind rises in the evening,
Reminds that autumn is near.
I am afraid to lose you,
I am afraid of my fear.

On the last mile to Huesca,
The last fence for our pride,
Think so kindly, dear, that I
Sense you at my side.

And if bad luck should lay my strength
Into the shallow grave,
Remember all the good you can;
Don't forget my love.

Huesca

jiwa di dunia yang hilang jiwa
jiwa sayang, kenangan padamu
adalah derita di sisiku
bayangan yang bikin tinjauan beku

angin bangkit ketika senja
ngingatkan musim gugur akan tiba
aku cemas bisa kehilangan kau
aku cemas pada kecemasanku sendiri

di batu penghabisan ke Huesca
batas terakhir dari kebanggaan kita
kenanglah sayang, dengan mesra
kau kubayangkan di sisiku ada

dan jika untung malang menghamparkan
aku dalam kuburan dangkal
ingatlah sebisamu segala yang indah
dan cintaku yang kekal

Lebih jauh dengan Huesca

Kalau kita perhatikan, penerjemahan puisi yang dilakukan Chairil Anwar itu nyaris tanpa cela dalam arti jumlah suku katanya tidak terlalu banyak berbeda dengan puisi aslinya. Pilihan kata yang digunakan Chairil Anwar juga akurat, yang akhirnya mendukung ketersampaian maknanya secara wajar.

Barangkali perbedaan paling jelas dari kedua puisi itu adalah perbedaan bentuk (form) pusi asli dan terjemahan Chairil. Dalam puisi aslinya masih ada persajakan yang cukup teratur sedangkan dalam terjemahannya, persajakan puisi asli sudah tidak dipertahankan lagi. Hal ini terjadi karena dalam berpuisi, John Cornford dianggap melanjutkan tradisi puisi Inggris lama (kolot) sedangkan Chairil Anwar dan para peyair Indonesia sezamannya merupakan generasi sastrawan yang mencoba membebaskan diri dan tidak mau terikat oleh pakem-pakem bentuk kesusasteraan seperti pada generasi sebelumnya (Angkatan Pujangga Baru maupun Balai Pustaka).

Yang menjadi ganjalan terpenting bagi kita (pembaca, penikmat puisi) yang hidup di negara tropis adalah simbolisasi musim gugur, padahal bisa dikatakan justru di situlah nyawa puisi itu.

Simbolisasi ini baru dapat tertangkap dengan jelas apabila kita mengetahui karakteristik masing-masing musim dan kiasan yang biasa dinisbatkan oleh para penulis di masyarakat empat musim itu. Syukur bila kita sendiri pernah bermukim di negara dengan 4 musim.

Pada bait kedua baris ke-2 dari puisi itu, kita mendapati penggambaran tentang autumn, musim gugur (orang Amerika lebih suka menyebutnya Fall), dan disusul baris ke-3 tentang kecemasan bakal berpisah dengan sesuatu/seseorang yang ternyata masih kalah mengerikan dibanding dengan kecemasan penyair pada ketakutannya sendiri. (Modar ora..?)

musim gugur, simbolisasi keindahan

Dari buku pengetahuan umum atau ensiklopedia yang baik, kita dapat mengetahui bahwa musim gugur di negara empat musim itu terjadi setelah musim panas yang mengeringkan daun-daun di pepohonan. Angin pada musim gugur bertiup lebih kencang, yang menyebabkan bergugurannya daun berwarna keemasan dari ranting-rantingnya. Suasana ini lazim digunakan untuk menyimbolkan keindahan.

Tetapi, keindahan yang disimbolkan justru bisa berupa keindahan sesaat. Mengapa sesaat? Karena keindahan itu tidak berlangsung lama; sesudah musim gugur yang indah itu, datanglah musim dingin.

musim dingin, simbolisme kematian

Dalam situasi natural, musim dingin identik dengan tidak nampaknya kehidupan (dan kalau mau dilanjutkan, tidak adanya kehidupan itu dapat berarti kematian). Simbolisme ini banyak dipergunakan dalam karya seni, baik puisi, novel, lukisan, maupun musik untuk menyatakan keberpisahan, kematian, suasana yang dingin dan mencekam. Coba perhatikan karya Antonio Vivaldi, The Four Seasons, terutama Concerto No. 4 in F minor, yang lazim disebut “Winter”.

Demikianlah Huesca, salah satu contoh terjemahan puisi yang sangat berhasil. Puisi terjemahan itu “bernyawa” karena Chairil Anwar menguasai kedua bahasa, memahami persoalan dengan sangat baik, dan (terutama) memiliki kepekaan seorang sastrawan. Baik Chairil Anwar maupun John Cornford adalah penyair muda yang tumbuh, berkarya dan mati pada masa peperangan (dalam usia 20-an) serta meninggalkan karya-karya yang terus dibicarakan orang.

... Sekali berarti / Sudah itu mati // ...

Komentar


  1. Nike, 20 Jul 2011:

    thanks yaaa....akhirnya selesai juga tugas Sastra Indo ini....!!!!
    Skali lagi thanks...

  2. Harimur, 22 Aug 2011:

    @Nike: sama-sama. Boleh kutip atau ambil dari artikel ini, tapi jangan plagiat ya... Sebutkan penulis dan sumbernya... Oke? Sukses selalu...

  3. Yayat, 12 Oct 2011:

    ada yang bisa tentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik dari puisi di atas gak?

  4. Jokz Van SwOmatra, 13 Nov 2011:

    Terima kasih, Bung, atas tulisan 'pencerahan' mengenai puisi terjemahan Chairil Anwar 'Huesca'.
    Maju terus dan sukses selalu :-)

  5. Ferdinand Agrab, 21 Nov 2011:

    Wah, pas bgt, Thank you so much bro... tp klw bisa diceritakan juga cerita dari puisi tersebut....
    Skali lg, thnkz ya....

  6. Harimur, 22 Nov 2011:

    @Yayat: cobalah terus mencari dan menganalisis sendiri.
    @Jokz van Swomatra dan @Ferdinand Agrab: sama-sama. Makasih sudah berkunjung...

  7. Agustinus Dapa Loka, 19 Okt 2012:

    Terima kasih bro. Saya bahagia benar karena salah satu puisi terjemahan Chairil "Huesca" dah lama saya cari dan baru ini kali saya temukan. Makasih ya


Ingin berkomentar?

Form komentar hanya disedikan di posting terbaru. Bila Anda ingin menyampaikan pertanyaan atau komentar, silakan gunakan contact form atau email.


Artikel Terkait

Puisi pendidikan anak usia dini yang paling fenomenal adalah “Children Learn What They Live” yang ditulis Dorothy Law Nolte (terj. Indonesia oleh Jalaluddin Rakhmat).

If children live with criticism, they learn to condemn. ...
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. ...

Baca selengkapnya»