Terjemahan Literal vs. Terjemahan Kontekstual

By: Hari M.

Posted 22 May 2011, updated 10 Oct 2011

Kalau ditanya seperti apa teori terjemahan itu, maka saya cenderung menjawab bahwa jumlah teori terjemahan berbanding lurus dengan banyaknya penerjemah. Setiap penerjemah akan memiliki pendekatannya sendiri, meskipun akan saling bersinggungan satu sama lain.

Bukankah seperti itu yang biasa terjadi dalam ilmu-ilmu Humaniora? Konon, bahkan ada statement bahwa sistematika filsafat (Barat) itu sebenarnya sudah selesai di tangan Plato, para filsuf yang datang di kemudian hari tinggal menggeser batas-batas yang sudah digariskan Plato (Koreksi saya kalau saya salah ya....).

Nah, dalam hal terjemahan, umumnya ada dua pendekatan yang berbeda: pendekatan literal (word-for-word, kata-per-kata) dan pendekatan kontekstual. Kedua pendekatan ini punya kelebihan dan kekurangan di tempat yang berbeda. Pendekatan literal akan lebih unggul diterapkan untuk wilayah atau bidang ilmu eksakta, seperti fisika, matematika, kimia, teknik, dan sebagainya, sedangkan pendekatan kontekstual akan unggul dipergunakan untuk menerjemahkan karya sastra, seni, idiom, dan berbagai bidang ilmu humaniora seperti sejarah dan antropologi.

Yang termasuk pembeda bagi kedua pendekatan itu bukan hanya pilihan kata melainkan juga stuktur dan logika bahasa dari masing-masing teks (bahasa sumber dan bahasa tujuan).

Melihat sifat kedua pendekatan itu yang berbeda, sebenarnya akan cukup bermasalah bila kedua pendekatan itu ditukarpakaikan bahkan sekedar disalahterapkan. Misalnya pendekatan literal digunakan untuk menerjemahkan sejarah lisan, filsafat, atau etnografi.

Contoh yang selalu saya ingat adalah ketika saya mengedit terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris seperti ini: “...it is like throwing salt to the ocean...”. Saya tidak perlu pusing untuk memahami artinya karena meskipun “wujud”nya secara literal adalah bahasa Inggris, sebenarnya logika penggalan itu adalah logika bahasa Indonesia, yang akan kelihatan kalau diartikan kata-per-kata: “seperti menggarami laut...”

Sesungguhnya, setiap bahasa memiliki logika dan cara pandangnya sendiri-sendiri (entah bahasanya yang mempengaruhi cara pandang masyarakatnya, atau cara pandang masyarakatnya yang mempengaruhi bahasanya, atau keduanya? Silahkan pilih Mazhab anda sendiri...).

Penutur bahasa Inggris tidak akan mengerti makna ungkapan “...it is like throwing salt to the ocean...” atau justru menangkap arti yang berbeda, sementara kita akan paham dengan maksud ungkapan yang diinggriskan itu sebagai: mengerjakan sesuatu yang mubazir, memberi sedekah kepada miliuner, dan sebagainya.

Penutur bahasa Inggris akan faham bila kita menerjemahkannya secara kontekstual ke dalam ungkapan mereka: Carry coals to Newcastle, yang bila diartikan kata-per-kata: membawa batubara ke Newcastle (sebuah tempat pertambangan batubara). Jadi, ungkapan Indonesia bagai menggarami laut harus diterjemahkan dengan ungkapan bahasa Inggris “cary coals to Newcastle“ yang maknanya membawa sesuatu ke tempat yang sudah berkelimpahan .

Jadi, begitulah sebuah proses terjemahan berlangsung. Ia tidak sekedar memindahkan kata-kata, tetapi lebih dari itu ia memindahkan konteks makna.





Ingin berkomentar?

Form komentar hanya disedikan di posting terbaru. Bila Anda ingin menyampaikan pertanyaan atau komentar, silakan gunakan contact form atau email.


Artikel Terbaru



Puisi pendidikan anak usia dini yang paling fenomenal adalah “Children Learn What They Live” yang ditulis Dorothy Law Nolte (terj. Indonesia oleh Jalaluddin Rakhmat).

If children live with criticism, they learn to condemn. ...
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. ...

Baca selengkapnya»