Mengetuk Pintu berarti Pencuri ...

By: @harimury

Posted 19 Jun 2011

Setiap bahasa memiliki logikanya sendiri. Di dalam ekspresi bahasa itu terkandung sejarah, adat istiadat, dan pandangan masyarakat penuturnya terhadap segala aspek kehidupan, dari soal bertetangga, keamanan dan keselamatan bersama, ritual keagamaan, dan sebagainya. Postingan kali ini akan membahas pentingnya terjemahan kontekstual itu apabila sudah menyangkut ekspresi khusus dari suatu bahasa. (Lihat juga pembahasan lainnya tentang terjemahan kontekstual ini dalam tulisan sebelumnya).

Contoh paling ekstrim dari perlunya terjemahan kontekstual adalah sebagaimana dijelaskan oleh Eugene A. Nida, seorang Pendeta Amerika yang lebih dikenal karena teori-teori terjemahannya. Dalam bukunya God's Words in Man's Language (1952: 45-6), Eugene Nida menjelaskan perlunya menerjemahkan Kitab Wahyu 3:20 dalam konteks budaya setempat. Perhatikan petikan ayat yang bercetak tebal berikut.

Dalam bahasa Inggris versi New American Standard, ayat dari Alkitab itu berbunyi: Behold, I stand at the door and knock; if anyone hears My voice and opens the door, I will come in to him and will dine with him, and he with Me..

Lembaga Alkitab Indonesia, memberikan bunyi terjemahan ayat itu: Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

Dalam hal ini, tidak ada masalah dalam terjemahan Indonesia, karena dalam budaya Indonesia, tamu biasanya mengetuk pintu (bahkan sekalipun sudah ada doorbell).

Kembali ke penjelasan Eugene Nida. Sementara terjemahan ayat itu tidak bermasalah dalam konteks budaya Indonesia, ayat itu akan sangat bermasalah bila diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Zanaki, bahasa sebuah suku di Tanzania.

Dalam kehidupan suku yang masih serba gelap, kehadiran orang yang mengetuk pintu itu menjadi penanda buruk, karena di sana, yang mempunyai kebiasaan mengetuk pintu rumah orang sebelum memasukinya adalah pencuri. Di kegelapan, sebelum masuk rumah/tenda dan beraksi, pencuri akan mengetuk pintu. Kalau ternyata di dalamnya ada suara (yang berarti penghuninya ada di dalam), maka si pencuri akan lari, tetapi kalau tidak ada suara apa pun dari dalam tenda, maka pencuri akan segera masuk dan kabur membawa jarahannya.

Nah, dengan menerjemahkan ayat Alkitab apa adanya ke dalam bahasa Zanaki (berdiri di depan pintu dan mengetuk), para misonaris yang mengabarkan Injil ke masyarakat Zanaki justru akan menampilkan Yesus sebagai pencuri, dan ini menjadi masalah super serius.

Alternatif yang harus ditempuh adalah menerjemahkan ayat itu ke dalam ekspresi yang sesuai dengan kebiasaan tamu dalam budaya tersebut. Dalam budaya Zanaki, seorang tamu akan berteriak memanggil nama orang yang di dalam rumah/tenda, karena dalam kegelapan, satu-satunya yang dapat dikenali hanyalah suara. Kita pun mengenal ratusan suara teman-teman kita sendiri kan...?

Nah, dalam konteks ini, Eugene Nida menganjurkan menerjemahkan ayat tersebut (dan ayat-ayat lain yang senada dengannya) menjadi "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan berteriak memanggilmu; ..." Bagi gambaran kita, Yesus jadi kelihatan norak dan tidak kenal sopan santun, tapi bagi masyarakat Zanaki, that just makes sense!

Begitulah, terjemahan bukan sekedar mengganti kata-kata dari suatu bahasa asal ke dalam bahasa tujuan, melainkan memindahkan seluruh makna dan mencari padanan maknanya dalam bahasa tujuan. What a complicated task...., betul-betul tugas yang rumit!

Dari perspektif terjemahan, kita juga harus bertanya: Selama ini, tepatkah terjemahan Indonesia dari ayat-ayat AlQuran tentang pengibaratan Surga sebagai tempat yang "mengalir di bawahnya sungai-sungai...". Apakah nilai psikologis sungai bagi masyarakat Indonesia sama dengan nilai psikologis sungai bagi masyarakat padang pasir 14 abad yang lalu? Apa implikasinya? Mungkin ini perlu dibahas di lain waktu.



Ingin berkomentar?

Form komentar hanya disedikan di posting terbaru. Bila Anda ingin menyampaikan pertanyaan atau komentar, silakan gunakan contact form atau email.


Artikel Terbaru

Puisi pendidikan anak usia dini yang paling fenomenal adalah “Children Learn What They Live” yang ditulis Dorothy Law Nolte (terj. Indonesia oleh Jalaluddin Rakhmat).

If children live with criticism, they learn to condemn. ...
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. ...

Baca selengkapnya»