Terjemahan Mesin vs. Terjemahan Manusia

By: @harimury

Posted 20 May 2011, updated 25 May 2011

Teknologi menyediakan kemudahan, termasuk dalam menerjemahkan. Karena perkembangan teknologi pula, saat ini ada bermacam software terjemahan, misalnya Transtool dan Babylon Translate. Ada juga online translator yang tidak memerlukan pengguna menginstal software apapun. Komputer pengguna hanya perlu terhubung ke jaringan internet. Yang paling dikenal dari jenis ini adalah Google Translate. Posting pertama untuk BlogNotes ini membahas bagaimana seharusnya kita menggunakan Google Translate.

Google Translate sangat terkenal di kalangan mahasiswa, terutama untuk kuliah bahasa Inggris; sayangnya mahasiswa terkesan asal pakai, diperburuk lagi dengan kurangnya pengetahuan tentang tips dan trik pemanfaatannya secara efektif. Selain itu ada juga yang "memaksanya" untuk memahami buku-buku teks berbahasa Inggris. Mestinya, kita perlu memahami beberapa hal mendasar agar kita sadar konteks dan tidak semena-mena menggunakan teknologi dengan dalih kemajuan dan kemudahan, yang sebenarnya justru bisa membuatnya jadi bahan tertawaan.

Yang paling mendasar adalah bahwa Google Translate lahir di era internet, di dunia maya, dan terutama untuk keperluan penjelajahan internet juga. Ibarat kulkas, ia memang didesain utuk rumah yang telah memiliki prasarana listrik dan dimaksudkan untuk menyimpan sayur, daging, dan sebagainya. Apabila dipergunakan untuk menyimpan baju (seperti pernah terjadi di suatu tempat yang makmur tapi belum ada listrik di awal tahun 1990-an), tentu akan menjadi tertawaan dan membuat kita mengelus dada.

Dengan demikian memaksa Google menerjemahkan paper yang kemudian dikumpulkan tanpa koreksi itu seperti menggunakan kulkas untuk menyimpan celana dalam. Memang ada persamaan mendasar kulkas dan lemari: untuk menyimpan. Tetapi, benda yang disimpan tentu berbeda. Kita juga tidak akan mau makan sayur yang ditaruh di sebuah pispot, kan...?

Kedua, bahwa penerjemah otomatis seperti ini merupakan program komputer. Dia tidak "memahami" kata-kata selain yang ada dalam database-nya meskipun database itu selalu di-update hampir setiap detik. Karena itu mustinya kita tidak memaksa Google Translate menerjemahkan ungkapan-ungkapan seperti: “bulu kuduk saya berdiri” atau “membina”, apalagi “berurai air mata” atau “cape deh...”; pendeknya, segala istilah khas Indonesia. Kalau anda memaksa menerjemahkan “cape deh...”, maka Google juga akan menjawab “cape deh...”. Nah....!

(Trik: Mau yang lebih lucu lagi? Coba anda masuk ke Google Translate, kemudian set dari Bahasa Inggris ke Indonesia, ketik FIGHT UP. Hasilnya? Sungguh di luar dugaan: Google memberi terjemahan FIGHT UP sebagai “melawan Facebook!”)

updated 2, 06/16/2011

Mulai hari ini, Google sudah memperbaiki kesalahan penerjemahan fight up ke dalam bahasa Indonesia.

Menurut saya, Google Translate tidak akan banyak membantu untuk menerjemahkan tulisan kita sendiri ke dalam bahasa asing tetapi akan sangat berguna dalam satu hal: untuk memahami informasi yang ditampilkan di suatu halaman web dalam bahasa asing. Misalnya, kita menemukan situs web dengan tampilan gambar dan ilustrasi yang bagus, tapi penjelasannya menggunakan bahasa yang sama sekali asing bagi kita. Dalam situasi seperti ini, Google Translate akan membantu untuk sekedar mengetahui gambaran umum dari isi halaman web tersebut. Meski tidak seratus persen akurat, sekurang-kurangnya kata-kata kunci dalam halaman web itu dapat kita pahami, bahkan meski web itu tidak disertai ilustrasi atau gambar.

Tingkat akurasi terjemahan Google Translate akan lebih tinggi untuk dua bahasa yang tergolong “serumpun” atau sekerabat. Misalnya, saya hanya menguasai 1 bahasa asing (bahasa Inggris) dan ingin mengetahui informasi dalam suatu halaman web yang ternyata hanya ditulis dalam bahasa Jerman. Maka, Google Translate dapat membantu menerjemahkan halaman web itu ke dalam bahasa Inggris dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi, begitulah triknya. Saya punya tips untuk tidak menerjemahkan halaman web Jerman itu langsung ke bahasa Indonesia, karena jelas jauh sekali hubungan kekerabatan bahasanya

Dengan demikian, kita perlu selalu menempatkan alat, teknologi, dan fasilitas itu pada tempatnya, untuk tujuan apa ia dibuat. Google translate pertama-tama dibuat dan memang sangat berguna untuk memahami informasi secara sepintas lalu. Dalam hal terjemahan untuk sesuatu yang lebih berjangka panjang seperti makalah atau buku, terjemahan mesin tentu akan menggelikan...



Ingin berkomentar?

Form komentar hanya disedikan di posting terbaru. Bila Anda ingin menyampaikan pertanyaan atau komentar, silakan gunakan contact form atau email.


Artikel Terbaru

Puisi pendidikan anak usia dini yang paling fenomenal adalah “Children Learn What They Live” yang ditulis Dorothy Law Nolte (terj. Indonesia oleh Jalaluddin Rakhmat).

If children live with criticism, they learn to condemn. ...
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. ...

Baca selengkapnya»