bagian pertama dari 3 tulisan

Indië dalam Terjemahan Surat-surat Kartini (Inggris dan Indonesia)

By: @harimury

Posted 07 Oct 2012, updated 16 Nov 2012

Dalam bukunya Indonesia: antara Kelisanan dan Keberaksaraan, almarhum Prof. A. Teeuw membincangkan penerjemahan sejumlah konsep dalam surat Kartini ke bahasa Indonesia. Posting ini meninjau penerjemahan satu nama kawasan (sekaligus denotasi kultural) yang penting dalam surat Kartini, yaitu Indië (Netherlands-Indië). Sekilas akan dipaparkan lebih dahulu zaman penjelajahan samudra bangsa Eropa ke negeri asal rempah-rempah pada abad ke-15 yang melahirkan toponim Indië itu.

Ada dua buku yang diperbandingkan dengan kumpulan surat Kartini yang terbit pascamerta sebagai Door Duisternis tot Licht (dapat diunduh di Project Gutenberg), yaitu: terjemahan ke bahasa Inggris Letters of A Javanese Princess (juga tersedia di Project Gutenberg) dan terjemahan Indonesia oleh Sulastin Sutrisno, Surat-surat Kartini (Penerbit Djambatan, 1982). Terjemahan Armijn Pane yang terlalu puitis, Habis Gelap Terbitlah Terang (PN Balai Pustaka, 1998) tidak ikut dibandingkan.

India, Indian, Indies, Indië, Hindia

Sejak abad ke-5, perdagangan rempah-rempah (Spice Trade) memiliki nilai ekonomi dan politik yang setara dengan perdagangan minyak dan gas di zaman sekarang. Demikian pentingnya rempah-rempah itu, sehingga pascajatuhnya Kota Konstantinopel ke tangan Turki Usmani tahun 1453 (yang sekaligus menandai dominasi Turki atas jalur perdagangan rempah-rempah yang sudah ada), para pedagang Eropa harus mencari rute-rute baru agar bisa mendapatkan rempah-rempah langsung dari tempat asalnya —yang waktu itu belum diketahui secara pasti.

Saat itulah dimulai zaman penjelajahan samudra (Age of Exploration) oleh bangsa-bangsa Eropa yang juga harus bersaing dengan saudagar Arab dan India yang sudah lebih dahulu menguasai jalur maritim ke negeri rempah-rempah dan telah menjalin hubungan dagang dengan para saudagar dan penguasa di nusantara. Berbekal penemuan-penemuan baru dalam navigasi serta keinginan untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat, penjelajah Eropa menempuh jalur laut dengan fasilitas kerajaan masing-masing.

Berdasar perjanjian Tordesillas, jalur pelayaran untuk menemukan “India” (yang mereka kira sebagai negeri rempah-rempah) dibagi dua: Spanyol ke arah barat menyeberangi Samudra Atlantik, Portugis ke timur melalui ujung selatan benua Afrika (yang kemudian dikenal sebagai Tanjung Harapan, Cape of Good Hope). Impian untuk menjelajah samudra ini demikian menaungi Eropa sebagaimana tergambar dalam karya sastranya, misalnya Robinson Crusoe karya Daniel Defoe.

Saat penjelajah Spanyol yang dipimpin Columbus sampai di sebuah daratan di lepas Samudra Atlantik, mereka sangat yakin telah sampai di India. Penduduk setempat pun mereka sebut “orang India” (Indian). Belakangan, kesalahan ini diperbaiki dengan menyebut kawasan itu sebagai “West Indies” untuk membedakannya dengan India tempat para penjelajah Portugis mendarat di jalur timur (“East India”). Namun kesalahan identifikasi Columbus itu terlanjur menyebar dan tidak terhapuskan. Demikianlah, bahkan hingga hari ini penduduk asli Amerika itu masih disebut Indian.

Dalam periode penjelajahan sesudahnya yang cukup panjang, Spanyol meneruskan penjelajahan samudra ke barat hingga mendarat di Filipina dan akhirnya mencapai kepulauan Maluku, sementara Portugis sampai di anak benua India dan akhirnya sampai juga di negeri asal rempah-rempah. Secara kolektif, kawasan rempah-rempah itu disebut Indies atau bentang wilayah di sebelah tenggara India [sekarang: Asia Tenggara] yang –kecuali Vietnam– terpengaruh kebudayaan India.

Namun capaian Spanyol dan Portugis itu harus jatuh ke tangan dua kekuatan Eropa yang datang kemudian: Inggris dan Belanda. Dari persaingan kekuatan-kekuatan Eropa untuk menguasai perdagangan itu, Inggris akhirnya “menguasai” India melalui EIC (East India Company), Spanyol menguasai sebagian West Indies dan Filipina, kemudian Portugis menguasai sebagian West Indies dan sebagian kepulauan Timor, sedangkan Belanda “menguasai” negeri rempah-rempah beserta sebagian besar kepulauan Nusantara melalui VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Dalam bahasa Belanda, entitas yang dikuasai VOC itu dikenal sebagai Netherlands Oost-Indië dan setelah tahun 1800 menjadi Netherlands-Indië (Bahasa Inggris: Dutch East Indies) atau Hindia Belanda.

Surat-surat Kartini dan terjemahannya

Dengan latar Hindia Belanda seperti itu, menjadi sedikit mudah bagi kita menempatkan Kartini pada zamannya. Surat-surat Kartini mencerminkan majunya pikiran anak muda kelas menengah perkotaan. Ini dimungkinkan karena selain “jiwa pemberontakannya” tidak ditindas, sebagai anak Bupati tentu ia memiliki akses ke pengetahuan dan informasi secara lebih luas, apalagi dengan penguasaan Bahasa Belandanya. Lebih jauh, kesempatan ini ikut mendorong cara berfikir Kartini melampaui perempuan sezamannya.

Kiranya tidak perlu diulang lagi tentang siapa Kartini dan suratnya kepada sahabat-sahabat penanya di Negeri Belanda yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan pascamerta sebagai Door Duisternis tot Licht. Bahan-bahan yang membicarakan Kartini dan surat-suratnya itu sudah sangat banyak dan dapat ditemukan dengan mudah. Yang akan disinggung di sini hanya dua hal, satu di antaranya off-topic tapi sangat menarik karena jarang disinggung ketika membicarakan Kartini.

Pertama tentang salah satu kakak laki-laki Kartini bernama Sosrokartono. Ia adalah mahasiswa bimbingan Snouck Hurgronje di Leiden yang tidak menyelesaikan studinya. Konon, ia lebih sibuk dengan pergaulannya di lingkaran ningrat Eropa dan bahkan terjerat hutang. Suatu ketika, Snouck Hurgronje mengundangnya makan malam. Di tengah jamuan, dengan hati-hati Snouck meminta Sosrokartono menyelesaikan disertasinya, dan sang Promotor berjanji akan membantu melunasi hutang-hutangnya. Sosrokartono menjawab bahwa hutang itu adalah satu-satunya yang ia miliki dan memperingatkan profesornya itu untuk tidak mengambilnya. Belakangan, ia melunasi sendiri hutang-hutangnya setelah bekerja sebagai koresponden koran Amerika (Baca Memoirs-nya Bung Hatta, Tintamas, 1979)

Kedua tentang door duisternis tot licht. Yang mengherankan, ungkapan itu tidak tersua dalam kumpulan surat itu, tidak seperti ungkapan yang diambil Pramoedya Ananta Toer (Panggil Aku Kartini Saja), misalnya, yang terdapat dalam surat Kartini tanggal 25 Mei 1899 (“Noem mij maar Kartini —zoo het ik.”). Barangkali ungkapan door duisternis tot licht itu ada di salah satu surat yang tidak diterbitkan. Selain itu, ungkapan itu telah terlanjur memasyarakat sebagai “habis gelap terbitlah terang”: sebuah tafsir yang puitis tapi tidak akurat dalam memotret gerak dinamis yang ditunjukkan preposisi  door ... tot ... (“dari .... menuju ...”, atau bahkan “[berjalan] menerobos [kegelapan] menuju [cahaya]”). Saya kira terjemahan alternatif yang setia justru akan membuka kemungkinan baru. Sebagaimana dikemukakan Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri) dalam salah satu tweet-nya, bisa jadi ungkapan Kartini door duisternis tot licht itu bersumber dari pemahamannya tentang min al-zhulumãt ilã l-nũr ( من الظلمات الى النور, “dari kegelapan menuju cahaya”).

Indië dalam terjemahan surat Kartini

Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana para penerjemah surat-surat Kartini itu memandang dan mengungkapkan toponim Indië itu dalam bahasa tujuan, dalam hal ini bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Yang agak mengherankan, dalam terjemahan bahasa Inggris, Louise Agnes Symmers begitu saja menerjemahkan kata Indië itu menjadi India: nama suatu wilayah yang bukan tempat asal Kartini. Demikianlah, misalnya Indië dalam surat Kartini tanggal 25 Mei 1899 (garis bawah dari saya):

... Vele mijner neven en al mijne oudere broers hebben de H.B.S. doorloopen —de hoogste inrichting van ondervijs, die wij hier in Indië hebben, ...

itu diterjemahkan menjadi:

... Many of my cousins and all my older brothers have gone through the Hoogere Burger School —the highest institution of learning that we have here in India; ...

Sementara itu alm. Sulastin Sutrisno, seorang guru besar Filologi di Fakultas Sastra UGM, menerjemahkan penggalan itu (hlm. 2):

... Kebanyakan saudara sepupu saya dan semua kakak laki-laki saya tamat HBS —lembaga pendidikan tertinggi yang ada di Hindia di sini....

Sebagai catatan, kata Indië dalam Door Duisternis tot Licht muncul sebanyak 122 kali, sedangkan derivasinya (Indisch, Indische, Indischen) muncul di 27 tempat. Dalam terjemahan Inggrisnya, semua kata itu diterjemahkan menjadi India (nomina) dan Indian (adjektiva), baik pada cetakan tahun 1923 maupun 2005. Sementara itu dalam bahasa Indonesia, kata-kata tersebut diterjemahkan menjadi Hindia (baik untuk nomina maupun adjektiva).

Demikianlah, ternyata akurasi penerjemahan kata Indië dalam surat-surat Kartini ke bahasa Indonesia oleh Sulastin Sutrisno jauh lebih tinggi dibanding terjemahan ke bahasa Inggris oleh Symmers. Semoga nanti ada pembaca yang mau meminjamkan terjemahan Joost Cote (Letters from Kartini: an Indonesian feminist, 1900-1904 atau On Feminism and Nationalism) yang lebih kemudian, sehingga bisa diperbandingkan.

Komentar


  1. farhan, 07 Nov 2012:

    Good Article, sangat mencerahkan. Tapi kalau indie yang dipakai untuk film indie itu maksudnya independen kan??

  2. Ranny, 10 Nov 2012:

    Baru ngeh kalau mengatakan suku Indian itu salah. Selama ii saya tidak menyagka ada sejarah yg panjang dibalik itu. Thanks...

  3. Wong ndeso, 11 Nov 2012:

    (Komentar tidak dimuat)

  4. harimur, 13 Nov 2012:

    @farhan: Ya, betul. Indie dalam "film indie" itu tidak ada hubungannya dengan Hindia Belanda...
    @Ranny: Syukurlah kalau apa yang saya tulis bermanfaat...
    @Wong ndeso: Maaf saya telah mengecewakan Anda. Saya menunggu Anda mempublikasikan tulisan Anda yang lebih "bermutu" dan mencantumkan email yang valid dalam komentar Anda.


Ingin berkomentar?

Form komentar hanya disedikan di posting terbaru. Bila Anda ingin menyampaikan pertanyaan atau komentar, silakan gunakan contact form atau email.


Artikel Berikutnya

Dalam sejarah seni rupa kolonial prakemerdekaan, ada satu aliran yang disebut Mooi Indië. Salah satu karakter aliran ini titik beratnya pada keindahan alam Hindia Belanda. Banyak mendapat tentangan dari seniman-seniman prokemerdekaan, aliran seni rupa ini akhirnya tamat. Namun, pengaruh yang ditinggalkannya ternyata berlangsung setidaknya hingga tahun 1980-an, bukan di kalangan seniman melainkan di kalangan murid SD.

Baca selengkapnya »